Gozu (kepala sapi)
Gozu
(午頭?)
atau Kepala Sapi, adalah suatu judul kisah dalam legenda urban Jepang.
Legenda tersebut bercerita tentang suatu rombongan murid sekolah yang
melakukan perjalanan darmawisata. Saat para murid merasa bosan di tengah
perjalanan, seorang guru yang bersemangat untuk menceriakan
murid-muridnya memutuskan untuk mengisahkan beberapa cerita seram. Para
murid menikmati ceritanya namun saat sang guru mulai kehabisan cerita
untuk disampaikan, tiba-tiba ia bertanya apakah ada yang pernah
mendengar kisah "Kepala Sapi". Tiada yang mengetahui cerita tersebut.
Akhirnya sang guru pun bercerita. Awalnya, para murid menikmati cerita
tersebut dengan sungguh-sungguh, namun perlahan-lahan, banyak yang
ketakutan. Beberapa murid memohon agar sang guru menghentikan ceritanya
namun sang guru tampak seperti sedang kesurupan dan tak mau berhenti
bercerita. Beberapa saat kemudian, akhirnya sang guru sadar dan
mendapati bahwa bus berhenti di tengah jalan. Para murid dalam keadaan
kejang, mata mereka menjuling ke atas, mulut mereka berbuih, dan sang
sopir mengalami kondisi yang sama. Semuanya masih hidup, namun sang guru
tak mampu mengingat kisah yang ia ceritakan, dan tak ada yang dapat
menceritakan bagaimana kisah "Kepala Sapi" tersebut. Menurut versi lain,
siapa pun yang mendengar cerita tersebut tidak akan mampu untuk
menceritakannya kembali karena akan segera menemui ajal. Menurut rumor,
kisah terkutuk tersebut merupakan sepenggal kisah karya penulis
fiksi ilmiah,
Sakyo Komatsu yang tak dipublikasikan, namun tidak ada bukti bahwa penulis tersebut terlibat dalam legenda Kepala Sapi.
[13] Ada cerita rakyat
Ukraina
yang berjudul Kepala Sapi, tentang gadis yang mendapatkan keberuntungan
setelah mempersembahkan makanan dan tempat tinggal kepada kepala sapi
yang mengunjunginya di suatu malam,
[14]
namun kisah tersebut tidak mungkin dapat menimbulkan kepanikan atau
histeria bagi para pendengarnya. Ada juga film Jepang tahun 2003
berjudul
Gozu, disutradarai oleh
Takashi Miike yang meskipun mengumbar kekerasan dan adegan tak masuk akal, tidak ada kaitannya dengan legenda Kepala Sapi tersebut.
Jinmenken (anjing berwajah manusia)
Seekor
monyet Jepang
yang berjalan dengan empat anggota badan, menyerupai hewan berkaki
empat. Diduga penampakan monyet Jepang dikelirukan sebagai sosok
Jinmenken.
Jinmenken
(人面犬?)
adalah anjing dengan wajah manusia yang diyakini muncul pada malam hari
di area pemukiman di Jepang dan berlari menyusuri jalan raya dengan
kecepatan luar biasa. Jinmenken juga dapat berbicara, namun konon mereka
akan berbicara kasar atau meminta agar dibiarkan sendiri. Tidak seperti
kebanyakan legenda urban Jepang, anjing berwajah manusia tidak dikenal
sebagai pembunuh orang yang berjumpa dengannya, meskipun konon mereka
adalah hasil penelitian ilmiah yang berhasil kabur atau hantu dari para
korban kecelakaan di jalan.
[15] Ada spekulasi bahwa saksi mata yang mengaku telah melihat jinmenken sesungguhnya bertemu dengan
monyet Jepang,
yang tampak seperti berjalan dengan empat kaki, berbulu seperti anjing,
berwajah dan hidung mirip manusia yang mungkin diduga sebagai
jinmenken.
[15]
Jubah Merah
Jubah Merah (赤マント Aka manto?)
adalah hantu yang menghantui kamar mandi, biasanya pada bilik terakhir
di kamar mandi perempuan. Beberapa versi menyebutkan bahwa ia mengenakan
topeng untuk menutupi wajahnya yang sangat tampan. Saat korban berada di toilet, suara misterius akan bertanya apakah mau
kertas merah atau kertas biru.
Jika menjawab kertas merah, maka korban akan dibunuh dengan kejam
hingga bersimbah darah. Jika menjawab biru, maka korban akan dicekik
atau darahnya dikuras sampai habis, sehingga wajah/kulit korban berwarna
biru pucat. Jika menjawab dengan warna lainnya maka akan muncul tangan
(kadangkala menyembul dari
toilet
yang sedang dipakai), yang akan menyeret korbannya ke dunia lain. Dalam
versi lainnya, si hantu hanya bertanya apakah korbannya mau memakai
jubah merah dan bila mengiyakan maka ia akan mencabik kulit korbannya.
[16] Ia bisa juga bertanya kepada korbannya apakah mau baju merah atau biru.
[17] Jawaban yang dapat menyelamatkan nyawa korbannya adalah dengan menolak tawarannya.
Kokkuri-san
Kokkuri (狐狗狸?) adalah permainan
Ouija versi Jepang, yang menjadi populer selama
zaman Meiji.
[18] Para pesertanya menulis huruf-huruf
hiragana dan meletakkan tangan mereka pada sekeping uang, sebelum mengajukan pertanyaan kepada 'Kokkuri-san'
(こっくりさん?). Permainan ini populer di kalangan anak sekolah menengah
[19]
dan—seperti Ouija—ada beberapa rumor dan legenda terkait dengannya. Ada
cerita bahwa Kokkuri-san hanya memberitahu para peserta mengenai
tanggal kematian mereka, sementara ada cerita yang menyatakan bahwa
Kokkuri-san dapat ditanyai tentang berbagai hal namun peserta harus
menamatkan permainan dengan langkah yang benar, dapat dengan cara
mengucapkan selamat tinggal kepada Kokkuri-san sebelum meninggalkan
meja, atau membuang peralatan permainan kokkuri dalam batas waktu
tertentu, seperti membelanjakan uang yang dipakai atau menggunakan pena
yang dipakai menulis hiragana. Kegagalan untuk melakukannya akan
mengakibatkan kemalangan atau kematian bagi para pemain.
Kuchisake-onna (perempuan bermulut robek)
Sosok Kuchisake-onna dalam film Kuchisake-onna (2007).
Di
Jepang, anak-anak yang pulang sendirian di malam hari mungkin saja bertemu dengan seorang wanita yang mengenakan
masker, namun ini merupakan pemandangan yang biasa di sana sebab orang-orang memakainya untuk mencegah penularan
pilek
dan penyakit lainnya. Namun wanita yang tak lazim akan mencegat dan
bertanya, 'Apakah aku cantik?' Bila korban berkata tidak, ia akan
membunuh korbannya dengan gunting yang selalu ia bawa, namun kebanyakan
anak akan berkata iya, yang akhirnya akan muncul pertanyaan 'Meskipun
begini?' sembari membuka masker untuk memperlihatkan bahwa ujung
mulutnya robek sampai ke telinga. Wanita tersebut dikenal sebagai "
Kuchisake-onna"
(口裂け女?)
atau "Wanita bermulut robek". Tak peduli apakah korbannya berkata ya
atau tidak, si wanita pasti membunuh mereka. Jika berkata tidak,
korbannya akan ditebas, dan jika berkata ya, ia akan merobek mulut
korbannya agar menyerupai dirinya.
[20] Untuk dapat kabur dari
Kuchisake-onna,
korban dapat menanggapinya dengan jawaban "Biasa saja" atau "Lumayan",
dan korban dapat lari sementara ia kebigungan, atau korban dapat
melemparkan beberapa buah atau manisan agar dipungut olehnya, sehingga
memberi kesempatan untuk lari bagi para korbannya. Versi lain menyatakan
bahwa jika korban mengajukan pertanyaan yang sama maka ia akan bingung
lalu pergi.
[21]
Penumpang fatal
Kisah ini mengenai seorang sopir
taksi
yang berkendara mencari penumpang di waktu malam. Menurut cerita,
seseorang tiba-tiba muncul di kegelapan malam dan memanggil taksi. Orang
tersebut minta diantarkan ke tempat yang belum pernah didengar
sebelumnya oleh si sopir. Saat si sopir mengaku tidak tahu, ia
diyakinkan oleh si penumpang bahwa jalan menuju ke sana akan diberitahu.
Si penumpang menunjukkan arah dan jalan yang sangat berbelit-belit,
melewati gang dan jalan kecil, melintasi banyak pemukiman dan bahkan
keluar kota hingga menuju wilayah pedesaan. Setelah melakukan perjalanan
jauh dan tampaknya tak kunjung dekat dengan tujuan, si sopir merasa
gelisah. Ia menoleh ke belakang untuk bertanya mengenai posisi mereka,
namun merasa terkejut saat tahu bahwa si penumpang telah lenyap. Si
sopir kembali menoleh ke depan dan mendapati bahwa mobilnya sedang
mengarah ke tepi jurang.
[21]
Teke Teke
Teke Teke (テケテケ?) adalah hantu gadis yang jatuh di atas
rel dan tubuhnya terpotong oleh
kereta
yang melintas. Setelah menjadi hantu penasaran, ia membawa sabit dan
berjalan dengan tangan atau sikunya, dan gesekan tubuhnya saat diseret
menghasilkan
bunyi teke teke.
Jika ia bertemu seseorang di malam hari dan korbannya tidak berlari
cukup cepat, ia akan memotong tubuh korbannya jadi dua bagian agar
menyerupai bentuk tubuhnya.
[17]
Dalam suatu versi dikisahkan mengenai seorang siswa yang baru pulang
dari sekolah pada malam hari. Ia melihat sesosok gadis bersandar pada
sebuah jendela. Saat si gadis menyadari kehadiran siswa tersebut, ia
melompat dari jendela lalu jatuh di hadapan pemuda tersebut, dan
terungkap bahwa tubuhnya hanya separuh. Kemudian ia memotong tubuh
pemuda tersebut menjadi dua.
[22]
Toire no Hanako-san (Hanako-san di toilet)
Toire no Hanako-san (トイレの花子さん?) adalah legenda terkenal yang berkaitan dengan
sekolah dasar di Jepang. Legenda tersebut mengenai
hantu yang diduga sebagai arwah seorang murid yang
bunuh diri karena
ditindas murid lain ("
ijime").
Hantu ini juga diketahui hanya muncul tanpa alasan yang jelas.
Hanako-san adalah sebuah legenda populer di sekolah dasar di Jepang, dan
diyakini menghantui bilik keempat dalam kamar mandi perempuan. Dengan
sepasang mata bersinar tajam, hantu tersebut menakut-nakuti setiap orang
yang menatapnya. Tidak diketahui apakah jahat atau kejam, Hanako-san
hanyalah hantu menyeramkan yang menakut-nakuti korbannya.
[2
0 komentar:
Posting Komentar